Inilah 3 Ukuran Kehebatan Seseorang

Assalamu’alaikum, sisterfillah.

Sisterfillah pasti pernah menemukan orang-orang yang hebat di sekitar kita. Kita melihat dia hebat, karena berani melakukan sesuatu yang orang lain tidak berani melakukannya. Atau kita menilai seseorang hebat karena pencapaiannya yang melebihi orang lain.

Contohnya, seperti para crazy rich yang masih muda, tapi sudah memiliki kekayaan yang luar biasa. Atau misalkan kita melihat seorang tukang dagang air yang sudah tua tapi masih mampu mendorong gerobaknya sendiri.

Namun, pernahkah Sisterfillah berpikir, ternyata ukuran kehebatan seseorang tidak hanya diukur berdasarkan hal-hal tersebut saja?

Kata Imam Syafi’i ada 3 ukuran kehebatan seseorang, yaitu:

1. Kemampuan menyembunyikan kemelaratan

Kemampuan menyembunyikan kemelaratan bisa menjadi ciri orang tersebut hebat. Sebab, orang lain akan menyangka kita berkecukupan, karena kita tidak pernah meminta. Bagaimana bisa?

Tak lain adalah karena ukuran tentang sebuah kemampuan menyembunyikan kemiskinan. Jadi, semiskin apa pun kita jangan sampai meminta-minta. Tapi sayangnya orang-orang justru lebih senang meminta-minta.

Betapa banyak jumlah pengemis bermunculan, apalagi menjelang bulan Ramadhan? Semua orang berlomba-lomba memanfaatkan momen tersebut. Karena banyak umat muslim juga yang mulai rajin berinfaq.

Padahal kalau kita flashback, kita pernah dihebohkan dengan sebuah ‘kampung pengemis.’ Dimana mayoritas warganya bekerja sebagai pengemis tetapi harta kekayaannya bikin penonton geleng-geleng kepala. Rumah mereka tergolong mewah dengan kendaraan bagus. Pakaian pengemis merupakan pakaian kerja saja.

Apalagi di beberapa kota besar, profesi pengemis ini begitu menggiurkan. Terlihat banyak pengemis yang masih muda, secara fisik masih kuat tapi hanya duduk-duduk berpangku tangan. Belum lagi yang mengemis dengan paksa. Kalau tidak diberi, mereka akan memaki.

Do’a-do’a buruk dia lontarkan dengan nada yang tinggi dan cukup nyelekit. Padahal kalau posisinya seperti itu, yang terdzalimi siapa ya? Kan salah satu do’a yang diijabah ialah do’a orang yang terdzalimi.

2. Kemampuan menyembunyikan amarah sehingga orang mengiramu merasa ridha

Orang kuat adalah orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya, salah satunya amarah. Bukan orang yang pandai bergulat. Karena ternyata meredam amarah itu lebih sulit dari sekadar melawan musuh.

Sampai-sampai ada perintahnya, kalau kita marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, kalau kita marah dalam keadaan duduk maka berwudulah. Sebelumnya kita juga disarankan mengucapkan istighfar tanpa henti.

Apalagi sebagai ibu-ibu, biasanya gampang banget marah-marah. Anak salah dikit, dimarahin. Belum lagi kalau perempuan marah semua kata-kata bakal keluar.

Akhirnya syetan mendekati, karena kita dikuasai oleh amarah. Itulah kenapa saat bulan ramadan, orang yang berhasil melawan amarahnya dikatakan sebagai orang yang hebat.

Sejatinya, ketika kita bisa mengelola amarah, akan banyak hal yang bisa diperbaiki. Salah satunya dalam hal mendidik anak.

Jika anak melakukan kesalahan dan kita menyikapinya dengan baik, itu akan membantu membentuk kepribadian anak juga. Selain itu, hati anak yang terluka tidak akan mudah diperbaiki seperti memperbaiki barang yang dirusaknya misalkan.

3. Kemampuan menyembunyikan kesusahan sehingga orang lain mengiramu selalu bahagia

Ukuran kehebatan seseorang yang terakhir ialah menyembunyikan kesusahan, lebih tepatnya menyembunyikan kesedihan. Sehingga orang lain melihatnya ia selalu bahagia, tidak pernah memiliki masalah.

Padahal dibalik itu, ia hanya menyembunyikan semua masalahnya, tidak mengumbarnya. Karena merasa ada orang lain yang hidupnya lebih susah.

Ada sebuah kisah, dimana seorang perempuan muda baru saja ditinggal oleh suaminya. Suaminya meninggal karena penyakit.

Sejak suaminya sakit, ia tak pernah mengeluh pada siapapun. Raut mukanya selalu ceria, ketika orang bertanya, hanya dijawab dengan “mohon do’anya ya.”

Sampai ketika suaminya meninggal, ia masih tersenyum. Padahal ibundanya menangis terus, diliputi kesedihan yang mendalam, sampai-sampai menjadi sering pingsan. Beliau tidak bisa ditemui oleh siapapun.

Istrinya yang selalu mewakili dan masih dengan senyumnya, “Insya Allah suami sudah ditempatkan di tempat terbaik oleh Allah.”

Begitu menakjubkannya. Para pelayat sampai terpukau, bagaimana bisa?

Padahal suaminya meninggalkan ia dengan 2 anak yang masih kecil-kecil. Tapi ya begitulah, ia tetap tersenyum dibalik kesedihannya. Istri mana sih yang tidak sedih ditinggal suami untuk selamanya?

Semoga kita juga bisa belajar untuk menjadi hebat dari 3 hal di atas, ya, Sisterfillah. Mulai belajar untuk menyembunyikan kemiskinan tanpa harus meminta-minta, menahan amarah, dan selalu bahagia. Wallahu’alam.

1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like