PERHATIKAN ADAB BERTAMU INI AGAR SILATURAHIM MEMBAWA BERKAH

adab bertamu

Assalamu’alaikum, Sisterfillah !

Sudahkah Sisterfillah mengunjungi orang tua, sanak saudara ataupun kerabat selepas Ramadan ini? Karena kita masih dalam suasana pandemi, dimana kita harus menjaga protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, tentunya suasana silaturahim di idul fitri kali ini terasa sangat berbeda.

Jika Sisterfillah memilih untuk melakukan silaturahim secara langsung, jangan lupa untuk perhatikan adab bertamu yang telah diajarkan oleh Islam, jauh sebelum pandemi ini datang. Yuk kita pahami apa saja hak dan kewajiban saat bertamu dan menerima tamu agar silaturahim ini menjadi berkah bagi semua.

Bertamu bernilai ibadah

Sisterfillah, kita pasti sering mendengar istilah bertamu atau menghadiri undangan. Sebenarnya apa sih bertamu itu? Bertamu adalah datang atau berkunjung atau menghadiri undangan sanak saudara, teman atau tetangga.

Dan ternyata bertamu atau menghadiri undangan  juga bisa bernilai ibadah loh! Bertamu atau menghadiri undangan yang bagaimana ya, yang bisa bernilai ibadah?

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 53

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan”.

Baca juga :  Hal Yang Perlu Diperhatikan Muslimah Sebelum ke Salon

Adab Bertamu

1. Memberi kabar dan meminta izin sebelum datang berkunjung

Alangkah baiknya kita selalu memberi kabar jika akan berkunjung ke rumah/tempat seseorang. Terlebih di masa pandemi seperti ini. Jangan sampai kunjungan kita justru menjadi ketidaknyamanan bagi pemilik rumah, meskipun itu keluarga dekat kita sendiri.

Memberi kabar sebelum datang berkunjung juga merupakan etika yang sangat baik, agar pemilik rumah dapat mempersiapkan dirinya saat kita datang. Jangan sampai kita mengganggu privasi seseorang hanya karena datang tiba-tiba mengunjungi mereka.

“Meminta izin itu dijadikan suatu kewajiban karena untuk menjaga pandangan mata.”

(HR.Bukhari dan Muslim)

2. Memperhatikan waktu berkunjung

Waktu berkunjung yang baik diajarkan Rasulullah Saw dalam sebuah riwayat sahabat :

Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Biasanya ia datang kepada mereka pada waktu pagi atau sore.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Hindari waktu-waktu yang biasa digunakan orang pada umumnya untuk beristirahat. Seperti selepas dhuhur dan selepas isya’. Datang terlalu pagi juga kurang baik, karena biasanya banyak aktivitas yang harus segera diselesaikan di pagi hari.

Datanglah selepas ashar hingga sebelum maghrib, atau beberapa jam sebelum dhuhur.

3. Mengucap salam

 

Mengucap salam merupakan etika dalam bertamu. Dan jika sudah tiga kali salam tidak mendapat jawaban, hendaklah kita pulang kembali ke rumah kita.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (Al-Qur’an Surat AN-Nur:27)

4. Jangan mengintip isi rumah

Meskipun maksud dan tujuan kita adalah untuk memastikan apakah ada orang atau tidak, mengintip isi rumah merupakan merupakan prilaku yang harus kita hindari.  

Dari Sahal bin Saad ia berkata: Ada seorang lelaki mengintip dari sebuah lubang pintu rumah Rasulullah SAW dan pada waktu itu beliausedang menyisir rambutnya. Maka Rasulullah SAW bersabda : “Jika aku tahu engkau mengintip, niscaya aku colok matamu. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk meminta izin itu adalah karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR.Bukhari)

5. Jangan berdiri menghadap pintu masuk

Etika jangan berdiri menghadap pintu masuk langsung dimaksudkan untuk memberi ruang gerak pemilik rumah untuk mempersiapkan dirinya dan rumahnya. Upayakanlah tegak di samping kiri atau kanan pintu.

6. Bertamu dalam batas waktu sewajarnya

Jangan berlama-lama dalam bertamu termasuk adab bertamu juga, loh Sisterfillah! Kita harus memberi waktu bagi pemilik rumah untuk melakukan aktivitas lainnya. Atau jika sekiranya mendadak suasana menjadi kurang nyaman, misal anak pemilik rumah rewel, pemilik rumah banyak menerima tamu/telepon, ada baiknya untuk segera mengakhiri kunjungan ini.

7. Mendoakan pemilik rumah

Jangan lupa mendoakan pemilik rumah yang telah menerima kunjungan kita dan menyajikan hidangan apapun itu. Ucapan terima kasih yang tulus juga sudah menjadi adab bertamu yang tak boleh dilupakan.

8. Berpamitan saat pulang

Datang meminta izin, pulang juga demikian ya sisterfillah, agar pihak yang kita kunjungi juga merasa senang.

Sisterfillah,

Selain adab bertamu, Islam juga mengajarkan hal-hal penting bagi kita sebagai penerima tamu atau pemilik rumah. Apa sajakah itu?

etika menerima tamu

Baca Juga : Keistimewaan Hari Senin bagi Muslimah

1. Pemilik rumah berhak mengizinkan masuk atau tidak

Mengizinkan masuk atau tidak ke dalam rumah merupakan haknya pemilik rumah, loh Sisterfillah ! Bukan berarti kalau belum atau tidak diizinkan masuk artinya pemilik rumah sombong atau angkuh. Itulah sebabnya kita diminta untuk memberi kabar terlebih dahulu sebelum datang berkunjung.

Jadi jangan dulu kita berprasangka buruk kepada pemilik rumah. Bisa jadi pemilik rumah belum siap atau ada keperluan yang mendesak  lainnya sehingga belum siap untuk didatangi.

Jika kita dalam bertamu belum mendapat izin masuk, maka janganlah kita sebagai muslim masuk sebelum pemilik rumah menyuruh untuk masuk.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur ayat 28.

“Jika kamu tidak menemui seseorang di dalamnya,maka janganlah kamu masuk sebelum mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Seorang muslimah juga tidak diperbolehkan mempersilahkan tamu laki-laki untuk masuk ke dalam rumahnya saat ia seorang diri. Jika memang sangat diperlukan menemui tamu laki-laki, bisa dilakukan di teras atau tempat terbuka lainnya, agar tak muncul fitnah atau hal membahayakan lainnya.

2.  Mempersiapkan diri dan tempat dalam menerima tamu

Mempersiapkan diri dan tempat di rumah kita dalam menerima tamu merupakan hak sebagai pemilik rumah. Janganlah kita memasuki tempat-tempat yang tidak dipersiapkan oleh pemilik rumah untuk dimasuki orang lain. Seperti kamar pribadi, kamar mandi pribadi, dan ruangan-ruangan lainnya. 

Begitu juga dengan mempersiapkan diri, seperti menggunakan pakaian yang baik dan sopan. Menyiapkan makanan atau minuman untuk para tamu.

Hal ini termasuk dalam hal memuliakan tamu.

Muliakanlah tamumu, niscaya Allah kan memuliakanmu juga.

muliakan tamu

3. Menyambut dan menyapa tamu

Jangan lupa untuk menyambut dan menyapa tamu dengan baik dan dengan kalimat yang sopan.

4. Mengantarkan saat tamu pulang sampai ke pintu keluar

Saat tamu pulang, hendaklah pemilik rumah mengantarkan tamu sampai ke pintu keluar. Hal ini sebagai bentuk penghormatan bagi tamu kita. Kecuali ada udzur tertentu yang membuat kita tak bisa beranjak dari tempat kita.

Masya Allah Tabarakallah

Begitu sempurna islam mengatur hal bertamu dan menerima tamu.  Meskipun terlihat ringan dan sering dianggap sepele, tapi manfaatnya sangat luar biasa.

Sisterfillah harus memahaminya agar silaturahim yang dilakukan dapat bernilai ibadah dan membawa berkah.

“Barang siapa yang menginginkan diperluas rezekinya dan diperpanjang umurnya maka sebaiknya ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)

3 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like