7 Cara Mengelola Amarah. Nomor 6 Ternyata Berat, Sist!

Assalamu’alaikum, Sisterfillah yang di rahmati Allah

Pernahkah merasa kerjaan tidak selesai-selesai?

Tumpukan piring dan gelas yang belum di cuci. Mainan anak-anak yang selalu berhamburan. Melayani permintaan anak satu persatu yang bergantian merebut perhatian kita?

Atau bagi sisterfillah yang belum berkeluarga, pernahkah merasa kehidupan begitu monoton, membosankan, dan banyak beban?

Sisterfillah yang dirahmati Allah Swt. Terkadang hal-hal yang sepele tanpa kita sadari membuat pikiran menjadi tidak fokus.  Tanpa kita sadari kita sering marah-marah dengan orang di sekitar atau terdekat kita.

Sisterfillah, perlu kita ketahui amarah adalah kondisi emosi, dimana beban yang tidak bisa di bendung lagi sehingga kita belum bisa mengontrol diri dan jiwa kita.

Baca Juga : Merawat Fitrah Iman Anak

Mengapa kita sering marah atau belum bisa menahan amarah?

Mungkin salah satunya dikarenakan kita belum paham makna jika kita sanggup menahan amarah.

Padahal, bagi setiap muslim yang dapat menahan amarah ganjarannya adalah pahala dari Allah Swt.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 134


(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan

Begitu sayangnya Allah Swt kepada kita semua, sampai-sampai Allah akan hadiahkan Surga-Nya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:

“Berilah aku wasiat”.

Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!”

Orang itu mengulangi permintaanya berulang-ulang,

kemudian Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!”

Betapa Allah sangat mencintai hambanya yang mampu menahan amarah.

Nah sekarang, bagaimana ya cara- cara mengelola atau meredam amarah?

Baca juga : Bu Sabar yang Sabar

Cara mengelola atau meredam amarah, diantaranya:

1. Berwudhu
Berwudhu adalah mensucikan diri dari hadats kecil. Kita tahu bahwa amarah itu adalah sumbernya dari setan, dimana setan sumbernya dari api, api bisa di padamkan dengan berwudhu/air.

2. Berdzikir
Berdzikir atau mengingat Allah. Dengan selalu menjaga hati dengan mengingat Allah, maka hati kita akan selalu di jaga-Nya. Dimana mengingat Allah SWT adalah sarana untuk meredam amarah.

3. Berdoa
Berdoa merupakan permohanan seorang hamba kepada Rabb-Nya.
Dengan banyak berdoa memohon perlindungan-Nya, Allah akan melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk.

4. Mengambil posisi lebih rendah/duduk
Mengambil posisi lebih rendah atau duduk,dimana biasanya kalau kita dalam posisi marah tegak maka dengan mudah kita mengeluarkan emosi. Dan apabila kita mengambil posisi lebih rendah atau duduk diharapkan amarah kita lebih berkurang.

5. Perbanyak sholat sunah
Sholat sunah merupakan sholat selain sholat wajib
Dengan kita memperbanyak mendekatkan diri kita kepada Allah SWT baik yang wajib dan yang sunah, bukan tidak mungkin Allah SWT akan selalu melindungi kita dari keburukan.

6. Berdamai dengan hati
Berdamai dengan hati maksudnya kita bisa atau dapat bekerja sama dengan hati. Diri kita mengalah untuk kebaikan

7. Istirahat sejenak
Istirahat sejenak merupakan istirahat sejenak dari rutinitas yang sedang kita lakukan atau kerjakan.
Dengan istirahat sejenak, energi atau kekuatan kita bertambah.
Dengan kekuatan bertambah, jiwa kita akan kuat, sesekali berilah penghargaan terhadap diri kita sendiri. Tubuh kita butuh juga me time loh atau mungkin jalan-jalan untuk menyegarkan walaupun mungkin, hanya keluar rumah sebentar atau jalan-jalan.

Baca Juga : Betulkah Sabat itu Ada Batasnya?

Sisterfillah, mengelola amarah atau emosi memanglah tidak mudah. Butuh proses karena kendatinya hidup ini memang proses yang dinilai Allah Swt, bukan hasilnya!

Dengan kita bersungguh sungguh segenap hati dan selalu berdoa memohon perlindungan-Nya bukan tidak mungkin Allah senantiasa membimbing kita di jalan-Nya.

Amarah tanpa kita sadari itu akan berdampak bagi orang-orang terdekat kita, biasanya anak, suami atau keluarga terdekat kita atau bisa juga orang lain.
Keadaan dimana sesuatu hal yang tidak sesuai dengan hati, ketidaknyaman keadaan, kondisi yang lelah dan tenaga yang terkuras itulah pemicunya.

Semoga setelah membaca artikel ini, Sisterfillah mau dan mampu mengendalikan amarahnya.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua agar selalu berada di jalan-Nya.

Aamiin

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Poligami, Musibah Atau Solusi

Penulis : Rahayu Asda Sebenarnya ini bukan kapasitas saya untuk bertutur seputar poligami, tapi dari kemarin di beranda…