Bu Sabar yang Sabar

sabar

Seorang ibu berbadan cukup subur menaiki angkutan mikrolet dengan bawaan cukup banyak. Ada bakul, tampah, kukusan, kipas, dan barang lain yang semuanya terbuat dari bambu. Siang yang panas membuatnya berpeluh di wajahnya.

Diusapnya keringat dengan kain yang digunakan untuk menggendong bawaannya. Usianya sudah di atas 60 tahun. Namun gerakannya masih cukup gesit. Paling tidak, tenaganya masih kuat membawa barang dagangan yang sedemikian banyak dengan berjalan kaki dan naik angkutan umum.

Saat dia naik, saya sudah lebih dulu ada di dalam angkutan umum. Kami terlibat obrolan dalam perjalanan. Bu Sabar duduk di pojok dengan bawaan satu bakul besar berisi perabotan rumah tangga yang sebagian sudah berkurang, laku dibeli orang.

Obrolan pun mengalir setelah saya buka dengan senyum dan pertanyaan ringan.

“Ngantuk ya, Bu?”

Bu Sabar dengan senyum mengangguk menahan kantuk. Guratan kelelahan terlihat jelas, tetapi dia tutupi dengan senyum saja.

Bu Sabar pun bercerita. Sehabis Subuh dia sudah keluar rumah, naik angkutan umum menuju area tempat ia akan menjajakan dagangannya. Dia harus sepagi buta keluar rumah, berlomba dengan orang-orang yang naik angkutan umum menuju kantor.

“Berangkat pagi-pagi sekali enak, angkot masih kosong,” katanya.

Bu Sabar tidak khawatir kena razia atau digusur, karena ia tak perlu lapak untuk berdagang. Ia sadar betul, kota besar kadang tak berpihak kepada warga ekonomi lemah yang sering diusir, digusur, digaruk. Setiap hari ia gendong barang dagangannya berkeliling masuk keluar kampung.

Beratnya beban bawaannya mungkin sama bobotnya dengan beratnya hidup, tapi itu bukan alasan buatnya mundur. “Rejeki ada saja, Mbak. Kalau saya enggak jualan, bagaimana saya dapat uang?” selorohnya.

Bu Sabar sangat yakin Allah selalu menyediakan rejeki pada setiap hamba-Nya.

“Bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan. (QS Hud: 115)

Allah menguji kesabaran hamba-hamba-Nya dengan berbagai mecam kesulitan. Tiap orang akan berbeda sikap menghadapinya, karena ujiannya pun berbeda-beda.

Sisterfillah mungkin ingat kisah shahabiyah bernama Atiqah binti Zaid bin Amar Nufail?

Wanita salehah ini diuji Allah dengan wafatnya keempat suaminya sebagai syuhada.

Awalnya Atiqah menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar. Keduanya sempat bercerai karena Abdullah sering melalaikan ibadah. Setelah mereka menikah lagi, Abdullah tak lagi lalai terhadap agamanya. Dia gugur di Perang Thaif.

Atiqah yang salehah dan cantik kemudian dinikahi oleh Umar bin Khattab. Ia mendampingi hingga Umar menjadi khalifah. Takdir menentukan, Atiqah harus kembali kehilangan suaminya ketika Umar wafat karena dibunuh oleh Abu Lulu’ah.

Sebenarnya Atiqah enggan menikah lagi karena dia khawatir akan kehilangan suami lagi seperti dua suaminya terdahulu. Namun takdir berkata lain. Setelah menjanda, Atiqah menikah lagi dengan sahabat sekaligus pengawal setia Rasulullah, yakni Zubair bin Awwam.

Zubair yang gesit menunggang kuda tak pernah ketinggalan ikut berperang membela agama Allah. Apa daya, Atiqah kembali harus kehilangan suaminya. Zubair gugur sebagai syuhada di Lembah As-Siba’ pada Perang Jamal. Tentu saja Atiqah sangat sedih. Dia tidak mau menikah lagi meski banyak sahabat yang ingin melamarnya.

Kemudian Allah menakdirkan ia menikah lagi dengan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Meski usia mereka selisih jauh, Atiqah bisa berperan sebagai istri yang baik. Tetapi Husain pun kemudian wafat. Sejak itu Atiqah tidak mau menikah lagi, karena baginya terakhir menjadi istri dari cucu Rasulullah adalah yang terindah.

Kesabaran Atiqah yang empat kali ditinggal wafat suaminya ini membuatnya tegar. Satu hal yang dia pegang teguh saat menghadapi ujian hidupnya adalah, meskipun ia ditinggal mati suaminya sampai empat kali, ia tak pernah meninggalkan Allah sebagai tempatnya menggantungkan semua harapan.

Atiqah yang saleh, cantik, dan bersabar saat menerima ujian membuat namanya dikenal sebagai wanita yang bersuamikan para syuhada.

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”

(QS Ali Imran : 146)

Kembali kepada Bu Sabar. Dia dan juga ibu-ibu lainnya sadar betul semua harga kebutuhan melonjak-lonjak naik di atas keluhan dan kesulitan orang banyak. Tetapi tidak ada waktu buat kita bersedih. Karena harga-harga kebutuhan hidup tidak akan turun dengan kesedihan kita.

Untuk Sisterfillah yang sedang mendapatkan ujian kesabaran danmasih terus berjuang, ingatlah ini:

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”

(HR Muslim Nomor 2999)

1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like