Adabiyah Utang Piutang Dalam Islam

Assalamu’alaikum, Sisterfillah

Memberikan utang adalah hal biasa yang terjadi di masyarakat sekitar kita. Namun, ketika kita tidak mengetahui adab, hukum serta esensi dari utang- piutang itu sendiri dikhawatirkan akan jatuh kepada keharaman.

Hukum utang-piutang harus diketahui dari kedua belah pihak, baik sebagai pihak peminjam (utang) ataupun yang memberi pinjaman (piutang). Begitu pula dengan adabiyahnya, agar keberkahan bisa diraih dari kedua belah pihak.

Adab utang piutang

Menurut KBBI utang adalah uang yang dipinjam dari orang lain dan piutang adalah uang yang dipinjamkan kepada orang lain. Baik pemberi utang maupun peminjam sudah Islam atur bagaimana adabiyahnya masing-masing.

Baca Juga: 5 Adab Pertemanan dalam Islam

Adabiyah pada Pihak Peminjam (utang)

Islam membolehkan untuk meminjam atau berutang, Rasulullah SAW sendiri pernah melakukannya. Dikisahkan bahwa Rasul membeli makanan secara tidak tunai kepada seorang Yahudi. Saat itu, Rasul dalam keadaan terdesak, namun walaupun demikian Rasul tetap memberikan jaminan dengan menggadaikan baju besinya.

Kisah di atas menjelaskan bahwa utang diperbolehkan, namun sebaiknya dalam keadaan terdesak saja. Adabiyah Rasul sebagai pihak peminjam, tidak serta- merta meminjam namun ada hal yang Beliau jaminkan. Kemudian, Rasul pun tidak menunda-nunda untuk melakukan pembayaran, sesuai jatuh tempo yang disepakati. 

Kebanyakan orang yang berutang di zaman sekarang ini, tidak lagi menerapkan adabiyahnya. Bahkan, ada juga yang sampai berani berbohong demi menunda pembayaran. Lebih parahnya lagi ada yang sengaja berniat untuk tidak membayar, naudzubillah. Mereka lupa bahwa utang ada pertanggungjawabannya, bukan hanya dunia tapi juga akhirat. 

Padahal dengan jelas Rasul menginformasikan dalam sabdanya bahwa orang yang dengan sengaja menunda pembayaran utang, maka Ia akan bertemu Allah dengan status sebagai pencuri, naudzubillah tsumma naudzubillah. Berat sekali orang yang meninggal dengan meninggalkan utang. 

Apa itu utang menurut Islam?

Keburukan dari meminjam uang atau berutang lainnya adalah tertundanya untuk masuk surga, terkuranginya pahala karena harus mengganti hutangnya, rusaknya akhlak dan terhalangnya masuk surga bagi yang meninggal syahid.

Baca Juga: Adab Berdoa dalam Islam.No 6 Sering Diabaikan!

Adabiyah pada Pihak Pemberi Hutang (Piutang)

Memberi pinjaman merupakan akhlak mulia, jika ketentuannya terpenuhi. Konsep dalam Islam, salah satu transaksi muamalah yang mulia adalah piutang. Begitu juga dengan tingkatan pertengahan dari ukhuwah yaitu ta’awun (saling tolong menolong) merupakan nilai dari piutang sendiri. 

Banyak referensi yang menyebutkan bahwa ketika memberikan pinjaman kepada orang yang sangat membutuhkan merupakan perbuatan mulia. Sebuah hadits mengatakan bahwa urusan dunia dan akhirat akan Allah mudahkan ketika kita memudahkan urusan orang lain.

Adabiyah orang yang memberikan hutang, salah satunya adalah mencatatnya. Dianjurkan juga untuk menghadirkan saksi, apalagi ketika pinjamannya berbentuk nominal besar. Adabiyah berikutnya adalah menagih dengan cara yang ahsan dan memberikan tenggang waktu bagi yang belum mampu untuk membayarnya. 

Pada zaman Rasul, ada seseorang yang bernama Abu Qatadah. Beliau memberikan pinjaman kepada si Fulan. Pada saat Beliau menagih pinjamannya, si Fulan tidak menemui Abu Qatadah sehingga Beliau pulang dengan tangan kosong.

Kemudian, Beliau memanggilnya untuk bertemu dengannya. Pada akhirnya, si Fulan datang menemuinya sambil menangis karena belum bisa membayar hutangnya. 

Abu Qatadah teringat akan sebuah hadits tentang naungan Allah bagi siapa yang memberikan kelonggaran atau tenggang waktu hingga membebaskan hutangnya. Kemudian Beliau membebaskan hutangnya si Fulan. MashaAllah, sungguh mulia akhlak seorang Abu Qatadah. 

Kehidupan bermasyarakat, utang- piutang merupakan hal biasa yang dilakukan. Tidak sedikit juga yang utangnya tak terbayar sampai ajal menjemput. Kondisi seperti ini, bagi mereka yang memahami kebaikan, tentunya akan dijadikan ajang untuk meraih pahala. Selain memerdekakan utang juga meringankan siksa kubur penghutang.

Dalam Islam, ada hal yang dilarang untuk dilakukan bagi pemberi utang (piutang), yaitu mensyaratkan penambahan pada saat pengembalian atau pembayaran hutang, ini hukumnya haram. Penambahan dalam sebuah pinjaman uang termasuk riba.

Sebagai contoh adalah rentenir yang sangat mulia disaat meminjamkan uangnya, namun pada saat pembayaran ia menjelma seolah-olah menjadi lintah darat. Menghisap semua harta yang dimiliki si peminjam. Naudzubillah.

Nah, Sisterfillah, hukum utang-piutang dalam Islam memang diperbolehkan asal tetap patuh pada adab yang sudah dianjurkan. Lebih baiknya, jika tidak terlalu mendesak, maka hindarilah.

Jangan berputus asa perihal keuangan. Berserahlah kepada Allah dan tetap berusaha sekuat tenaga agar dimudahkan rezeki dan segala urusan di dunia, ya, Sisterfilah.

 

2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Ketika Hijab Sekedar Tren

Sejak kemunculan Oki Setiana Dewi pada film Ketika Cinta Bertasbih di tahun 2009, fenomena hijab semakin booming. Peluang…