Perempuan Setengah Tua Itu

perempuan tua

Perempuan setengah tua itu selalu muncul di kompleks kami. Setiap pagi dan sore kehadirannya bisa cepat kami tandai. Dengan suaranya yang sedikit lantang, ia akan selalu menyapa ibu-ibu kompleks maupun anak kecil yang dijumpainya.

Perempuan setengah tua itu berperawakan kecil, kurus ditambah dengan kulit yang hitam legam. Namun tawanya tidak pernah “legam,”  selalu ceria. Langkahnya tidak pernah lamban, selalu cepat. Seolah-olah ingin melawan angin sore yang kadang bertiup kencang, melambai-lambaikan karung lusuh di pundaknya.

Warga mana yang tidak kenal dengan Mama Ria. Ya, perempuan setengah tua itu dikenal dengan nama Mama Ria. Mungkin karena anak sulungnya bernama Ria. Demikianlah kultur di daerah kami, seorang ibu  disapa berdasarkan nama anak sulung mereka. Kadang juga disapa berdasarkan nama suaminya. Yang suaminya bernama Mulyono, maka isterinya akan disapa Ibu Mulyono. Jika suaminya bernama Zulfikar, isterinya disapa Ibu Zul. Sehingga tidak heran jika para ibu bisa saling akrab tanpa mengenal nama asli masing-masing.

Mama Ria adalah seorang pemulung yang wilayah kerjanya di seputar kompleks kami.  Saat ada barang plastik atau barang lainnya yang kira-kira bisa dijual kembali, kami tinggal memasukkannya ke dalam kresek dan menggantungnya di pagar rumah.  Mama Ria sudah paham kalau itu adalah barang halal untuk diambilnya. Selama masih dalam halaman rumah, dia tidak akan pernah berani mengambilnya meskipun sekedar botol bekas minuman. Kalau  barangnya agak banyak, kami tinggal menyusunnya di teras dan menunggu Mama Ria datang.  Dia akan masuk sekalian duduk melepas penat sambil bercerita apa saja.

pemulung
sumber foto: pixabay

Suatu waktu dia bercerita tentang suami yang meninggalkannya entah kemana. Tentang anak-anaknya yang dibesarkan sendirian dengan hanya makan nasi jagung atau singkong bakar. Kali lain dia bercerita tentang Ibu Ana yang memberinya ikan asin, Ibu Ani yang memberinya baju bekas, Ibu Anu yang memberinya kue. Bahkan tentang cerita heroiknya saat melawan satpam Bapak Walikota yang mengusirnya saat ada pembagian sembako di rumah Walikota. Tidak ada cerita duka, tidak ada cerita suka. Semua cerita yang mengalir dari bibirnya mengalun dengan nada ceria. Cocok sekali dengan namanya. Mama Ria!

Sungguh hati ini terasa malu di hadapan Mama Ria. Di tengah keluh kesah akan kehidupan yang jauh lebih beruntung darinya, ternyata masih ada orang-orang yang mampu memaknai gelombang hidupnya seperti pelangi yang tersusun atas sejumlah warna. Indah di tengah diamnya awan.

Sampai akhirnya terjadilah ketentuan dari Allah.

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari kiamat……. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

(QS. Al –Imran : 185)

Semua zat akan memiliki akhirnya masing-masing, termasuk tawa Mama Ria. Beliau menghadap Robbnya setelah sempat dirawat  dua hari di rumah sakit karena sakit perut.

Inilah pertama kalinya saya menyaksikan jenazah seorang pemulung yang dihantar oleh begitu banyak pelayat. Sirine ambulan menyeruak kerumunan. Sejumlah mobil dan motor berjajar menutupi satu sama lain di lorong sempit, di depan rumah kecil Mama Ria. Mereka semua datang untuk bertakziah.

Kenyataan di atas membuat kami tersadar bahwa ternyata kami begitu dekat dengan Mama Ria.  Kami kehilangan sosok yang sangat sederhana dan bersahaja. Dan kamipun baru tersadar, selama ini kami sangat terhibur dengan pengalaman hidupnya yang selalu diceritakan dengan riang gembira. Boleh jadi ada ruang kosong di hati kami yang justru diisi oleh seorang pemulung bernama Mama Ria. 

Seperti  sebuah ironi. Di saat kami tertekan dengan berbagai masalah pekerjaan maupun masalah rumah tangga, Mama Ria justru hadir sebagai manusia merdeka. Orang yang semestinya penuh keluh kesah dengan beban hidup begitu berat menurut pandangan kami, justru tak pernah resah. Betapa beruntungnya Mama Ria yang mampu memandang hidupnya dari sudut  lain.

“Bahwasannya Dia menakdirkan bagi mereka berbagai macam musibah, ujian, dan cobaan dengan perintah dan larangan yang berat adalah karena kasih sayang dan kelembutanNya kepada mereka, dan sebagai tangga untuk menuju kesempurnaan dan kesenangan mereka “

(Tafsir Asma’al Husna, karya As-Sa’idi)

Moment berpulangnya Mama Ria, seorang pemulung yang dihantar banyak orang,  membuat kami malu karena hanya mampu melihat dari yang zahir.

“…. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216)

Wallahu a’lam bis-shawab.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini ya, Sisterfillah.

 

Foto oleh Ravi Bwr dari Pexels
* Artikel ini merupakan kiriman pembaca sisterfillah.com. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pengirim. (SG1)

 

5 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like